Nama : Rachel Azkadela
Kelas : 1EB20
NPM : 25215485
PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN
2011 - 2016
2011
Perekonomian
Indonesia pada tahun 2011 menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah
meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, tercermin pada kinerja pertumbuhan
yang bahkan lebih baik dan kestabilan makroekonomi yang tetap terjaga.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,5%, angka tertinggi dalam sepuluh
tahun terakhir, disertai dengan pencapaian inflasi pada level yang rendah
sebesar 3,79%. Peningkatan kinerja tersebut disertai dengan perbaikan kualitas
pertumbuhan yang tercermin dari tingginya peran investasi dan ekspor sebagai
sumber pertumbuhan, penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan, serta
pemerataan pertumbuhan ekonomi antardaerah yang semakin membaik. Di sisi
eksternal, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami surplus yang relatif
besar dengan cadangan devisa yang meningkat dan nilai tukar rupiah yang
mengalami apresiasi. Di sektor keuangan, stabilitas sistem keuangan tetap
terjaga meski sempat terjadi tekanan di pasar keuangan pada semester II tahun
2011 sebagai dampak memburuknya krisis yang terjadi di kawasan Eropa dan
Amerika Serikat (AS). Dengan ketahanan ekonomi yang kuat dan risiko utang luar
negeri yang rendah, didukung oleh kebijakan makroekonomi yang tetap pruden dan
berbagai langkah kebijakan struktural yang terus ditempuh selama ini, Indonesia
kembali memperoleh peningkatan peringkat menjadi Investment Grade.
Fundamental
ekonomi Indonesia yang kuat mampu meminimalkan dampak dari gejolak ekonomi
global. Keti dakpasti an yang muncul akibat krisis utang Eropa dan kekhawati
ran terhadap prospek pemulihan perekonomian AS telah memicu gejolak di pasar
keuangan dan pelemahan pertumbuhan ekonomi global tahun 2011. Dampak dari
gejolak global tersebut ke Indonesia lebih banyak dirasakan di pasar keuangan
terutama pasar saham dan obligasi, sementara dampak pada sektor riil relati f
minimal. Di sektor keuangan, penarikan modal luar negeri oleh sebagian investor
pada semester II tahun 2011 memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah, imbal
hasil obligasi Pemerintah, dan harga saham. Namun, dengan langkah-langkah
stabilisasi oleh Bank Indonesia dan Pemerintah, didukung oleh kuatnya
fundamental sektor keuangan dan terjaganya stabilitas makroekonomi, gejolak pasar
keuangan dapat dihindari. Di sektor riil, daya tahan perekonomian Indonesia
dari sisi eksternal didukung oleh diversifikasi pasar ekspor dengan semakin
besarnya perdagangan intra-regional di kawasan Asia dan semakin meningkatnya
peran foreign direct investment (FDI). Dari sisi domestik, daya tahan ekonomi
juga didukung oleh kuatnya daya beli terkait dengan meningkatnya pendapatan dan
struktur demografi yang sebagian besar berada dalam usia produktif.
Di samping
fundamental ekonomi yang kuat, respons kebijakan yang tepat mampu menopang
ketahanan perekonomian nasional. Bank Indonesia dan Pemerintah melakukan
koordinasi kebijakan dalam memperkuat fundamental ekonomi sekaligus memiti gasi
dampak gejolak eksternal. Dari sisi Bank Indonesia, penerapan bauran kebijakan
moneter dan makroprudensial secara terukur dan pada waktu yang tepat telah
berhasil menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bauran kebijakan
tersebut diterapkan melalui respons kebijakan suku bunga dan nilai tukar, serta
kebijakan makroprudensial dalam rangka pengelolaan aliran modal asing dan
likuiditas perbankan. Bauran kebijakan moneter dan makroprudensial tersebut
juga didukung oleh strategi komunikasi dalam rangka meningkatkan efekti vitas
transmisi kebijakan moneter dan mengurangi keti dakpasti an pelaku pasar. Dalam
bidang perbankan, Bank Indonesia terus memperkuat ketahanan perbankan,
meningkatkan fungsi pengawasan, dan mendorong intermediasi yang diarahkan pada
sektor-sektor produktif. Dari sisi Pemerintah, kebijakan fiskal diarahkan
kepada peningkatan stimulus dengan tetap menjaga kesinambungan fiskal. Secara
sektoral, Pemerintah terus berupaya mendorong dan meningkatkan perkualitas
pertumbuhan ekonomi melalui perbaikan iklim investasi, percepatan pembangunan
infrastruktur, peningkatan daya saing industri dan produk ekspor, serta
peningkatan ketahanan pangan nasional termasuk dalam rangka stabilisasi harga.
Koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia dan Pemerintah untuk meningkatkan
daya tahan ekonomi dan stabilitas makro juga diperkuat melalui implementasi
Protokol Manajemen Krisis (PMK) dan pengendalian infl asi di pusat dan daerah
melalui forum Tim Pengendalian Inflasi (TPI) dan Tim Pengendalian Inflasi
Daerah (TPID).
Prospek
ekonomi Indonesia tahun 2012 diprakirakan masih tetap kuat, meskipun risiko
yang berasal dari pelemahan ekonomi global masih tinggi. Perekonomian nasional
pada tahun 2012 diprakirakan tumbuh 6,3% - 6,7% dan infl asi diprakirakan dapat
berada di kisaran sasaran 4,5% ± 1%. Pertumbuhan ekonomi terutama bersumber
dari perekonomian domestik dengan peran investasi yang semakin meningkat. Pasar
domestik yang besar, terjaganya stabilitas makroekonomi, suku bunga yang
rendah, perbaikan iklim investasi, dan status investment grade merupakan faktor
pendorong tingginya pertumbuhan investasi ke depan. Sejalan dengan itu, arus
modal masuk FDI diperkirakan akan meningkat lebih tinggi sehingga surplus NPI
akan tetap besar. Kondisi ini mendukung tercapainya stabilitas nilai tukar
rupiah dalam menghadapi risiko tingginya gejolak arus modal. Meskipun demikian,
risiko pelemahan ekonomi global dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia
cenderung ke batas bawah kisaran prakiraan apabila tidak ditempuh
langkah-langkah stimulus baik dari sisi moneter maupun fiskal. Sementara itu, rencana
kebijakan Pemerintah terkait dengan BBM bersubsidi dan komoditas strategis
lainnya dapat memberikan tekanan ke atas terhadap perkembangan inflasi kedepan.
Dalam tahun
2012, Bank Indonesia akan mengoptimalkan peran bauran kebijakan moneter untuk
menjaga inflasi tetap berada di dalam kisaran sasarannya serta mendorong
pertumbuhan ekonomi dalam rangka memitigasi risiko perlambatan ekonomi global.
Sementara di bidang perbankan, Bank Indonesia akan meningkatkan efisiensi
perbankan untuk mengoptimalkan kontribusinya dalam perekonomian dengan tetap
memperkuat ketahanan perbankan. Di samping itu, Bank Indonesia terus berupaya
memperluas akses perbankan pada masyarakat (financial inclusion). Di bidang
sistem pembayaran, Bank Indonesia terus meningkatkan efisiensi, keandalan, dan
keamanan serta penerapan aspek perlindungan konsumen, baik dalam sistem
pembayaran nasional maupun hubungan sistem pembayaran dengan luar negeri.
Dengan langkah-langkah ini, pertumbuhan ekonomi tahun 2012 diyakini dapat
kembali berada di tengah kisaran prakiraan. Dalam jangka menengah, dengan
perekonomian dunia yang diperkirakan akan membaik dan kebijakan struktural yang
terus dilakukan khususnya di bidang investasi dan infrastruktur, pertumbuhan
ekonomi Indonesia mempunyai prospek untuk tumbuh lebih tinggi dan
berkesinambungan dengan stabilitas makroekonomi yang terjaga. Perekonomian
nasional diprakirakan akan tumbuh mencapai 6,6%-7,4% dan inflasi yang semakin
menurun dan menuju 4,0% ± 1% pada tahun 2016.
Pertumbuhan PDB tetap kuat dan inflasi menurun. Pertumbuhan PDB pada triwulan 2/2011
tidak berubah dari triwulan 1 sebesar 6,5 persen tahun-ke-tahun. Investasi dan
konsumsi swasta tetap kuat. Dengan penurunan harga bahan pangan, inflasi IHK
bergerak turun menjadi 4,8 persen di bulan Agustus 2011. Walaupun tingginya
harga-harga bahan pangan beberapa waktu lalu berdampak negatif terhadap
konsumen pangan bersih (net food
consumers), kuatnya ekonomi domestik berkontribusi terhadap penurunan
tingkat kemiskinan nasional menjadi 12,5 persen di bulan Maret 2011, dari 13,3
persen tahun sebelumnya.
Posisi fiskal Indonesia yang kuat sangat berbeda
dengan situasi banyak Negara yang memburuk sejak tahun 2008. Tingkat hutang pemerintah Indonesia
terhadap PDB relatif rendah, sekitar 25 persen, dan dengan kecenderungan
menurun. Defisit diperkirakan akan turun dari 2,1 persen dari PDB di APBN-P
tahun 2011 menjadi 1,5 persen di R-APBN tahun 2012. Pengeluaran untuk subsidi
energi masih rentan terhadap peningkatan harga minyak, seperti terlihat dari
kenaikan defisit dalam APBN-P tahun 2011. Akan tetapi, belanja inti, terutama
untuk infrastruktur, masih terhambat oleh masalah pencairan.
Proyeksi dasar Bank Dunia terhadap pertumbuhan
Indonesia sebesar 6,4 persen untuk tahun 2011 dan 6,3 persen untuk tahun 2012. Angka pertumbuhan tahun 2012 telah
diturunkan dibandingkan Triwulanan edisi Juni karena melemahnya prospek
pertumbuhan negara-negara mitra dagang utama dan harga komoditas, tetapi masih
pada tingkat yang kuat. Dibawah skenario yang lebih pesimistis terhadap outlook
perekonomian global, khususnya jika permasalahan sekarang memicu perlambatan
yang lebih luas, , pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakanakan lebih rendah.
Ekonomi
riil Indonesia terus menunjukkan kinerja yang kuat pada kuartal ketiga, dengan PDB
riil meningkat sebesar 6,5 persen tahun-ke-tahun selama tiga kuartal
berturut-turut. Pertumbuhan konsumsi swasta masih bertahan kuat seperti juga
pertumbuhan ekspor riil, walaupun sedikit lebih rendah pada kuartal kedua. Di
sisi produksi, industri pengolahan masih terus menunjukkan prestasi yang baik.
Pertumbuhan PDB terakhir juga diiringi dengan penciptaan lapangan kerja yang
pesat, dengan lapangan pekerjaan non-pertanian meningkat hingga 5,4 persen di
tahun berjalan hingga bulan Agustus 2011, walaupun lapangan kerja di bidang
pertanian telah menurun. Ekonomi riil Indonesia masih tetap menunjukkan
tanda-tanda terkena dampak melemahnya lingkungan eksternal.
Dengan
melemahnya prospek pertumbuhan global dan berlanjutnya ketidakpastian
perekonomian dunia, maka okperkiraan pertumbuhan dasar (baseline) Bank Dunia
untuk tahun 2012 bagi perekonomian Indonesia telah diturunkan menjadi 6,2
persen, sedikit lebih rendah dari 6,3 persen yang diproyeksikan pada Triwulanan
edisi Oktober 2011. Perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2011
tetap tidak berubah pada 6,4 persen.
2012
Kinerja
perekonomian Indonesia pada tahun 2012 cukup menggembirakan di tengah
perekonomian dunia yang melemah dan diliputi ketidakpastian. Pertumbuhan
ekonomi dapat dipertahankan pada tingkat yang cukup tinggi, yaitu 6,2%, dengan
inflasi yang terkendali pada tingkat yang rendah (4,3%) sehingga berada pada
kisaran sasaran inflasi 4,5±1%. Di tengah menurunnya kinerja ekspor,
pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang oleh permintaan domestik yang tetap
kuat. Hal ini didukung oleh kondisi ekonomi makro dan sistem keuangan yang
kondusif sehingga memungkinkan sektor rumah tangga dan sektor usaha melakukan
kegiatan ekonominya dengan lebih baik. Selain itu, kuatnya permintaan domestik
di tengah melemahnya kinerja ekspor menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan
neraca transaksi berjalan.
Perekonomian
Indonesia pada tahun 2013 diprakirakan tumbuh lebih tinggi, namun sejumlah
risiko dan tantangan perlu diantisipasi. Sejalan dengan membaiknya perekonomian
dunia, terutama pada semester II 2013, perekonomian Indonesia diprakirakan akan
tumbuh sebesar 6,3-6,8% dengan inflasi tetap terjaga sesuai dengan sasaran Bank
Indonesia sebesar 4,5±1%. Permintaan domestik diprakirakan tetap menjadi
penyumbang utama pertumbuhan ekonomi. Namun sejumlah tantangan dan risiko perlu
diantisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan.
Pertama, konsumsi BBM yang terus meningkat di tengah semakin menurunnya
produksi migas dalam negeri akan terus meningkatkan impor migas dan beban
subsidi sehingga semakin menambah tekanan terhadap kesinambungan fiskal dan
defisit transaksi berjalan. Kedua, struktur perekonomian dengan ketergantungan
impor yang tinggi khususnya untuk barang modal dan bahan baku, dalam jangka
pendek dapat menimbulkan kerentanan terhadap keseimbangan eksternal ketika
kegiatan investasi terus mengalami peningkatan. Dengan latar belakang tersebut,
kebijakan Bank Indonesia akan diarahkan pada upaya pencapaian keseimbangan
internal dan eksternal. Dalam hubungan ini, kebijakan Bank Indonesia diarahkan
untuk mencapai sasaran inflasi dan menjaga keseimbangan neraca pembayaran. Arah
kebijakan tersebut akan dilakukan melalui lima pilar bauran kebijakan. Pertama,
kebijakan moneter akan ditempuh secara konsisten untuk mengarahkan inflasi
tetap terjaga dalam kisaran sasaran yang ditetapkan. Kedua, kebijakan nilai
tukar akan diarahkan untuk menjaga pergerakan rupiah sesuai dengan kondisi
fundamentalnya. Ketiga, kebijakan makroprudensial diarahkan untuk menjaga
kestabilan sistem keuangan. Keempat, penguatan strategi komunikasi kebijakan
untuk mendukung efektivitas kebijakan Bank Indonesia. Kelima, penguatan
koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah dalam mendukung pengelolaan ekonomi
makro dan stabilitas sistem keuangan.
Bank
Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,1 persen untuk
tahun 2012, sedikit meningkat di tahun 2013 menjadi 6,3 persen. Proyeksi ini
mengasumsikan konsumsi domestik dan pertumbuhan investasi masih bertahan kuat,
dengan membaiknya pertumbuhan mitra dagang utama Indonesia secara bertahap yang
juga sedikit mendorong pemulihan ekspor.
Investasi
kini mencapai sepertiga dari seluruh belanja barang-barang dan jasa Indonesia.
Investasi meningkat 10 persen tahun-ke-tahun pada kuartal ketiga dan memberikan
dorongan hampir 40 persen terhadap pertmbuhan PDB yang kuat dalam kuartal
ketiga sebesar 6,2 persen tahun-ke-tahun. Walaupun sejauh ini investasi masih
tetap bertahan kuat, investasi dan harga komoditas dunia cenderung bergerak searah,
sehingga perkiraan investasi Indonesia dapat melemah dimana penurunan
penerimaan yang berkaitan dengan komoditas mempengaruhi ekonomi secara luas.
Di
sisi fiskal, Bank Dunia memproyeksikan defisit 2012 sebesar 2,5 persen, sedikit
lebih tinggi dari target APBN-P Pemerintah sebesar 2,2 persen dari PDB.
Pertumbuhan pendapatan telah melambat tetapi pengeluaran belanja modal dan
material masih di bawah target, meskipun tumbuh kuat secara nominal. Yang perlu
digaris bawahi, biaya kesempatan (opportunity
cost) dari subsidi energi terus meningkat
2013
Tahun 2013 adalah tahun penuh perubahan dan
tantangan bagi perekonomian Indonesia. Di tengah berbagai masalah struktural
yang belum terselesaikan, perubahan kondisi ekonomi global di tahun 2013
memunculkan ancaman terhadap stabilitas makroekonomi dan kesinambungan
pertumbuhan ekonomi. Respons bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan
Pemerintah mampu mendorong ekonomi bergerak ke tingkat yang lebih seimbang dan
mengembalikan stabilitas makroekonomi. Ke depan, perekonomian Indonesia
diperkirakan lebih baik, meskipun berbagai risiko perlu terus diantisipasi.
Kebijakan Bank Indonesia di tahun 2014 akan tetap fokus pada upaya menjaga
stabilitas makroekonomi. Upaya-upaya ini tetap harus didukung oleh percepatan
reformasi struktural dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi yang
berkelanjutan.
2014
Tahun 2014
yang baru saja berlalu ternyata kembali menjadi tahun yang penuh tantangan bagi
perekonomian Indonesia. Kondisi ekonomi global tidak secerah prakiraan semula.
Pemulihan memang terus berlangsung di berbagai ekonomi utama dunia, namun
dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan harapan dan tidak merata. Harga
komoditas dunia pun terus melemah karena permintaan belum cukup kuat, khususnya
dari Tiongkok. Di sektor keuangan, ketidakpastian kebijakan the Fed telah
meningkatkan kerentanan dan volatilitas di pasar keuangan dunia. Sebagai negara
berkembang (emerging market), kita turut merasakan adanya pergeseran arus modal
asing keluar dari Indonesia. Selain itu, kita juga dapat mengamati adanya
divergensi kebijakan moneter di negara-negara maju. Berbeda dengan the Fed yang
berencana melakukan normalisasi kebijakan moneternya, bank sentral Jepang dan
Eropa masih perlu menempuh kebijakan moneter yang sangat akomodatif.
Pertumbuhan PDB pada
kuartal pertama 2014 mengalami moderasi lebih jauh, menjadi 5,2 tahun-ke-tahun, dari 5,7 persen tahun-ke-tahun pada
kuartal sebelumnya. Tingkat pertumbuhan yang lebih lambat sebagian diakibatkan
tindakan stabilisasi moneter dan nilai tukar yang telah dilakukan untuk
memperkuat neraca anggaran dan meningkatkan tingkat kepercayaan investor.
Namun, ekspor masih tetap lambat, sebagian akibat dampak larangan ekspor
mineral mentah pada bulan Januari.
Proyeksi Bank Dunia untuk pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada tahun 2014 adalah 5,2 persen, sedikit di bawah proyeksi pada
Maret 2014 sebesar 5,3 persen.
Konsumsi pemerintah yang lebih rendah dari perkiraan, pertumbuhan kredit yang
lebih lambat, dan berlanjutnya pelemahan pemasukan terkait komoditas
diperkirakan akan menghambat pertumbuhan PDB pada paruh kedua tahun 2014.
Untuk mencapai sasaran jangka panjang, seperti
meningkatkan tingkat pertumbuhan di atas 6 persen dan mengurangi
ketidaksetaraan, reformasi struktural yang lebih dalam seperti reformasi
subsidi BBM dan investasi infrastruktur yang lebih besar akan menjadi sangat
penting dan akan membantu agar kesejahteraan terdistribusi secara lebih luas. Tidak adanya tindakan kebijakan
untuk mendukung investasi dan pertumbuhan produktivitas, akan meningkatkan
risiko gangguan struktural yang lebih besar.
Pertumbuhan pemasukan yang melemah, dan naiknya
biaya subsidi energi telah meningkatkan tekanan fiskal, sehingga membawa revisi anggaran
tahun 2014, yang menaikkan angka defisit fiskal menjadi 2,4 persen PDB dari 1,7
persen. Posisi fiskal masih tetap rentan terhadap kenaikan harga minyak atau
melemahnya Rupiah. Karena itu, perbaikan lanjut mutu belanja dan
peningkatan mobilisasi pemasukan sangat penting.
Sebagiannya
menggambarkan penyesuaian terhadap kondisi eksternal yang melemah, ekonomi
Indonesia tumbuh lebih lambat dibandingkan beberapa tahun terakhir, terutama
karena tingkat pertumbuhan investasi dan ekspor yang sangat lemah. Tingkat
pertumbuhan PDB untuk 2014 diproyeksikan sebesar 5,1%, sedikit direvisi turun
dari proyeksi bulan Juli sebesar 5,2%, dan revisi lebih besar untuk tahun 2015
menjadi 5.2% dari sebelumnya 5,6%, kemudian diproyeksikan naik menjadi 5,5% di
tahun 2016. Defisit neraca berjalan diproyeksikan terus menurun pada base case, meski dengan perlahan,
menjadi 2,8% dari PDB pada tahun 2016.
Belanja
lebih baik: Satu alasan perlunya menggerakan penerimaan lebih besar adalah
karena Indonesia perlu melakukan belanja lebih banyak dan lebih bermutu untuk
sektor kesehatan, terutama karena adanya sasaran mencapai jaminan kesehatan
universal pada 2019. Belanja publik saat ini untuk kesehatan masih sangat
rendah, hanya 1,2% PDB pada tahun 2012; rasio belanja kesehatan dengan PDB
terendah kelima di dunia. Untuk merealisasikan kesehatan universal menjadi
kenyataan, tidak hanya perlu fokus pada meningkatkan akses layanan tetapi juga
biaya yang terjangkau. Membangun layanan kesehatan yang lebih efektif, terutama
di wilayah timur Indonesia serta pada tingkat layanan dasar, juga penting.
2015
Pertumbuhan
diproyeksikan sebesar 4,7% untuk tahun 2015, turun dari proyeksi sebelumnya
sebesar 5,2% karena pertumbuhan output riil melambat menjadi 4,7%
tahun-ke-tahun pada kuartal pertama 2015, laju pertumbuhan paling lambat sejak
2009.
Investasi
tetap yang menurun serta melemahnya konsumsi masyarakat belakangan ini telah
menurunkan pertumbuhan PDB Indonesia. Namun pertumbuhan Indonesia masih relatif
tangguh dibanding negara-negara lain yang mengekspor komoditas ke Tiongkok,
seperti Brasil dan Afrika Selatan.
Investasi
tetap memberi kontribusi 1,4% kepada pertumbuhan PDB tahun-ke-tahun pada kuartal
pertama 2015 – atau setengah dari rata-rata kontribusi per tahun selama
2010-2012. Konsumsi masyarakat hanya tumbuh 4,7% tahun-ke-tahun pada kuartal
pertama, dibandingkan dengan rata-rata tingkat pertumbuhan 5,3% tahun lalu.
Konsumsi masyarakat merupakan 55% sumber total belanja PDB dan berdampak besar
pada pertumbuhan.
Melemahnya
laju pertumbuhan telah berimbas pada lesunya pembukaan lapangan kerja, dengan
tingkat pertumbuhan tenaga kerja yang hanya cukup untuk menyerap peningkatan
populasi usia kerja saja.
Indonesia
berada dalam posisi yang baik untuk merespon. Indonesia dapat menaikkan defisit
belanja namun tetap dalam batasan aturan fiskal sebesar 3% dari PDB, agar bisa
meningkatkan belanja proyek-proyek infrastruktur yang menjadi prioritas. Pada
sisi pendapatan, pemerintah telah memberlakukan beberapa kebijakan penting,
seperti sistem pengajuan pengembalian pajak elektronik dan perbaikan strategi
audit pajak penghasilan. Masih perlu tindakan tambahan untuk terus meningkatkan
pendapatan yang ditargetkan naik 30% dalam APBN tetapi turun 1,3% hingga bulan
Mei 2015.
Pertumbuhan
yang terus berjalan lambat, disertai menurunnya harga minyak dunia, turut
mempersempit defisit transaksi berjalan menjadi 1,8% dari PDB pada kuartal
pertama. Data perdagangan bulan April dan Mei menunjukkan penurunan lebih
lanjut pada sektor impor – yang biasanya tidak terjadi pada bulan-bulan
menjelang Ramadan.
Meskipun
pertumbuhan kredit melambat, aktivitas ekonomi melemah, dan harga bensin dan
solar tidak berubah sejak Maret, inflasi bergerak semakin cepat dalam beberapa
bulan terakhir, melebihi 7% tahun-ke-tahun pada bulan Mei dan Juni.
Kenaikan harga pangan secara luas merupakan alasan utama kenaikan harga
konsumen secara signifikan.
Pertumbuhan
investasi tetap diperkirakan akan meningkat pada semester kedua tahun ini,
namun tidak setinggi yang diproyeksikan sebelumnya akibat belanja negara yang
lebih rendah dari yang diharapkan dan meningkatnya investasi swasta.
Risiko
utama terhadap prospek ke depan sebagai dampak dari harga komoditas yang tetap
rendah dan penurunan lain terkait aktivitas ekonomi cenderung memburuk.
Ketentuan perdagangan yang melemah terus memberikan tekanan terhadap laba
perusahaan dan pendapatan rumah tangga, yang merupakan suatu risiko utama bagi
prospek permintaan dalam negeri.
Laporan
Triwulanan Ekonomi Indonesia edisi kali ini juga membahas keberlanjutan defisit
transaksi berjalan serta bagaimana agar reformasi subsidi bahan bakar minyak
bisa terus berjalan. Laporan ini juga membahas potensi energi panas bumi yang
teramat besar dan perlunya lingkungan regulasi yang lebih kondusif bagi
investasi di sektor ini. Selain itu, edisi ini membahas program Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) yang telah membantu pendanaan bagi 220.000 sekolah
dasar dan menengah pertama sejak mulai dijalankan 10 tahun yang lalu.
2016
Pertumbuhan
ekonomi Indonesia bakal semakin membaik pada 2016 karena berbagai kebijakan
Bank Indonesia yang lebih akomodatif ketimbang dua tahun sebelumnya. Kebijakan
Bank Indonesia lebih akomodatif dan ruang penyesuaian BI rate terbuka walau
tetap menjaga kehati-hatian di tengah tingginya ketidakpastian global dalam
jangka pendek. Potensi dan Tantangan Infrastruktur untuk Pertumbuhan Ekonomi.
BI untuk menurunkan BI rate 25 basis poin menjadi 7,25 persen, berdasarkan
hasil rapat Dewan Gubernur BI pada 13-14 Januari 2016. Penurunan suku bunga itu
sejalan dengan keputusan Bank Indonesia yang menyatakan akan menjaga stabilitas
pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, berbagai paket kebijakan ekonomi yang
sudah dikeluarkan pemerintah sejak 2015 juga diperkirakan membawa dampak bagus
bagi perekonomian. Kebijakan-kebijakan yang mempermudah investasi dan
mempercepat pembangunan infrastruktur di daerah-daerah dinila Ryan sebagai
bentuk keseriusan pemerintahan akibat pertumbuhan ekonomi pada 2015 hingga tiga
kuartal berkisar 4,7 persen, menurun dibandingkan dengan pada 2014 yang
rata-rat menyentuh lima persen.
Harapan Untuk Perekonomian Indonesia
Saya berharap agar perekonomian di Indonesia
ke depan harus lebih baik dari sekarang. Harus lebih mampu menstabilkan
perkonomiannya dan mampu menghadapi persaingan perekonomian dengan Negara lain,
karena banyak tantangan baru untuk Indonesia, salah satunya Indonesia harus
menghadapi APEC (Asia-Pasific Economic Cooperation) yang baru masuk pada
tahun 2016. Saya berharap agar pemerintah memberikan pemahaman lebih terhadap
perekonomian di Indonesia dan lebih terbuka tentang apa yang telah maupun
sedang terjadi dengan perekonomian Indonesia. Saya juga berharap pemerinta
segara menghilangkan korupsi di Indonesia karna menurut saya korupsi membuat
perekonomian di Indonesia memburuk dan membuat nama Indonesia menjadi tidak
bagus.
REFERENSI
11. http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/01/16/o10mj5366-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-membaik-pada-2016